Listrik[PADANG ARO] Sebanyak 10.661 dari 34.357 rumah penduduk di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, belum teraliri listrik, di mana kecamatan pusat ibu kota, Sangir, memiliki jumlah terbanyak 2.530 unit.
Kepala Seksi Kelistrikan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Solok Selatan Zilhamri di Padang Aro, Sabtu (8/8), menyebutkan rumah yang belum teraliri listrik itu baik dari PLN, Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) maupun pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD).
Dari 10.661 rumah tersebut, terbanyak di Kecamatan Sangir dengan jumlah 2.530 rumah, Sangir Batang Hari 2.142 rumah, Koto Parik Gadang Diateh 1.554 rumah.
Lalu Kecamatan Pauh Duo sebanyak 1.413 rumah, Sangir Balai Janggo 1.059 rumah dan Sangir Jujuan 1.000 rumah. Sementara Kecamatan Sungai Pagu cuma 963 rumah.
Ia menyebutkan, pemerintah setempat dalam lima tahun terakhir mengalokasi anggaran melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja (APBD) untuk pembangunan jaringan listrik baru setiap tahun.
Pada tahun 2010, pemerintah daerah membuat jaringan listrik baru untuk jaringan tegangan menengah (JTM) sepanjang 1 kilometer, sedangkan jaringan tegangan rendah (JTR) 1,5 kilometer.
2011, JTM sepanjang 2,8 kilometer dan JTR 2,25 kilometer. Pada 2012, untuk JTM 950 meter dan JTR sebanyak tiga kali dengan panjang masing-masing sepanjang 1,9 kilometer, 350 meter dan 950 meter.
2013, yang hanya dibangun JTR sepanjang 3,3 kilometer, 2014 untuk JTM sepanjang 600 meter dan JTR 2,4 kilometer. Sementara pada tahun 2015 rencana pembangunan jaringan baru untuk JTM 700 meter dan JTR 900 meter.
“Pemkab dengan alokasi APBD pernah membangun jaringan untuk satu nagari, yakni Padang Limau Sundai Kecamatan Sangir Jujuan, mulai 2011-2013 dengan alokasi Rp800 juta sebanyak 12 tiang,” katanya.
Selain membangun jaringan baru, katanya, pemkab juga membuat gardu trafo sebanyak enam unit, dengan kekuatan 50 kilo volt ampere (KVA) sebanyak lima unit dan 25 KVA satu unit.
“Dari pemerintah pusat Solok Selatan juga mendapatkan pembangunan jaringan melalui program listrik desa,” katanya.
Ia menambahkan, sejak 2008 hingga 2010 pemerintah pusat juga telah membantu pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) ke daerah itu dengan jumlah 284 unit. PLTS tersebut dipasang di daerah yang tidak terjangkau oleh jaringan listrik, lalu diprediksi dalam lima tahun ke depan belum bisa masuk listrik PLN dan tidak memiliki potensi untuk dibangun pembangkit listrik.
“Seperti Pinti Kayu Tangah, Koto Parik Gadang Diateh,” katanya.
Kepala Jorong (Dusun) Kampung Baru, Nagari Alam Pauh Duo, Kecamatan Pauh Duo, Yuliadi, menyebutkan puluhan rumah warganya belum mendapatkan aliran listrik PT PLN sejak puluhan tahun lalu.
“Dari jumlah Kepala Keluarga (KK) di Kampung Baru sebanyak 267, sekitar 40 persen warga kami belum mendapatkan aliran listrik dari PLN,” katanya.
Ia menyebutkan, warga yang paling banyak belum mendapatkan aliran listrik dari PLN berada di kawasan GOR Kampung Baru yang mencapai 30 rumah lebih serta Kampung Tengah Dalam Kampung Baru yang juga sekitar sepuluh rumah.
By sp.beritasatu.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *