PJUTS Aceh Taming
Kualasimpang – Puluhan baterai lampu tenaga surya yang tersebar di ruas ja­lan umum lintas Kabupaten Aceh Tamiang ludes dijarah ma­ling. Akibatnya, lampu penerangan pinggir jalan tersebut pa­dam tidak bisa menyala sama sekali.
“Iya benar, lampu di sini memang sudah lama mati. Pasca se­lesai dibangun pada tahun 2015 hanya beberapa bulan saja hidup, selebihnya mati total sampai sekarang,” kata sejumlah warga yang ditemui Analisa di Simpang Tiga masuk Desa Paya Raja, Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang, Selasa (8/11).
Menurut warga, di ruas jalan Opak-Sungai Iyu ada delapan titik tiang lampu tenaga surya yang dipasang sampai batas desa Marlempang. Namun sekarang seluruhnya mati total sehingga tidak bermanfaat bagi masyarakat pengguna jalan tersebut.
Padahal, lampu tenaga surya sangat dibutuhkan mengi­ngat sepanjang jalan Opak-Sungai Iyu sekitar belasan kilometer sangat rawan kecelakaan dan perampokan akibat tidak ada pe­nerangan. “Kami tidak tahu matinya lampu ini karena apa, na­mun ada informasi baterainya dicuri,” ungkap warga.
Keterangan diperoleh Analisa menyebutkan, proyek penera­ngan jalan umum tenaga surya (PJUTS) pada tahun 2015 terda­pat di sejumlah titik tersebar di Kecamatan Rantau, Banda Mu­lia dan Bendahara sebanyak 26 unit. Pekerjaan proyek tersebut melalui tender di Dinas Pertamba­ngan dan Energi (Distamben) Kabupaten Aceh Tamiang.
Membenarkan
Kepala Distamben Aceh Tamiang, Ir Muhammad Zein, me­lalui Kasi Pemanfaatan Energi dan Kelistrikan, T Rovida Ka­mal, ST kepada Analisa, membenarkan PJUTS di ruas jalan Opak-Singai Iyu banyak yang mati akibat baterainya dijarah maling. Bahkan, sejumlah kaca lampu yang meng­andalkan te­naga surya tersebut juga pecah.
Pihaknya mengaku heran dengan penjarahan yang terjadi, padahal posisi baterai ditimbun dalam tanah dan dicor menggunakan semen namun bisa dibobol ma­ling. “Kasus hi­langnya baterai PJUTS ini sudah kita lapor ke Polsek dan Polres Aceh Tamiang, semoga saja bisa diungkap siapa pelakunya,” ujar Rovida.
Menurutnya, baterai yang dicuri merek VRLA GEL khusus untuk lampu tenaga surya. Harga baterai tersebut awkitR Rp 4 juta/unit. Jika tidak ada daya baterai, maka dampaknya lampu tidak dapat menyala dan memicu perangkat lainnya ikut rusak.
Pihaknya berharap, eleman masyarakat mau ikut terlibat dalam merawat dan menjaga infrastruktur yang telah dibangun pemerintah daerah untuk kepentingan bersama. “Karena proyek ini awalnya dari usulan desa, dan sewaktu serah terima juga di­ketahui perangkat datuk penghulu,” tegasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *