tenagasurya 1

KOMPLEKSKantor Balai Pengembangan Instrumentasi (BPI) Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) di Jalan Sangkuringan, Bandung, kini mulai padat. Banyak gedung yang berjejer. Lahan-lahan parkir pun penuh sesak.

Di bagian luar atap (rooftop) juga begitu. Berbagai perlengkapan canggih seperti aneka jenis radar, pemancar sinyal, hingga turbin serta panel penyerap energi surya untuk menghasilkan listrik terpasang.

Di antara sekian banyak peranti penelitian itu, perangkat turbin dan panel penyerap panas matahari merupakan teknologi yang paling muda. Dua perangkat tersebut adalah media penelitian bagi Demi Soetraprawata dan kawan-kawan.

Sejak 2012, alumnus S-2 Program Instrumentasi dan Kontrol ITB tersebut berfokus mengembangkan program pembangkit listrik hybrid berbasis energi baru terbarukan. Sebutan hybrid mengacu pada tiga sumber tenaga listrik, yakni angin, sinar matahari, dan aliran air.

Ditemui di kantornya Selasa (3/3), Demi menunjukkan perkembangan proyek penelitiannya. Pembangkit listrik hybrid yang diciptakannya memiliki kapasitas listrik hingga 170 kWh/hari atau setara 16 kW. Kapasitas sebesar itu cukup digunakan untuk mengaliri listrik sekitar 13 rumah berukuran standar (daya 1.200 watt).

’’Teknologi listrik seperti ini cocok untuk daerah-daerah terpencil yang belum terjangkau aliran listrik PLN,’’ ujar kepala BPI LIPI tersebut.

Peneliti kelahiran Bandung, 20 Juni 1959, itu menjelaskan, perlengkapan teknologi pembangkit listrik berbasis tenaga angin, sinar matahari, dan air sejatinya sudah masuk di Indonesia. Sayangnya, belum ada konten lokalnya. Semua diproduksi asing.

Karena itu, dalam penelitian tersebut, Demi dkk bermaksud memperbanyak konten lokal dalam perlengkapan teknologi pembangkit listrik berbasis energi terbarukan. Tidak tanggung-tanggung, Demi menargetkan konten lokal dalam teknologi mutakhir itu hingga 70 persen.

’’Saya mengkhususkan penelitian untuk komponen inverter dan controller charger,’’ kata suami Rosi Rostiati tersebut. Kedua komponen itu sangat vital karena berfungsi sebagai otak dalam rangkaian perlengkapan pembangkit listrik.

Peneliti yang tinggal di kawasan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, itu menguraikan, inverter berfungsi untuk mengubah arus listrik dari DC (direct current/arus searah) menjadi AC (alternating current/arus bolak-balik).

Menurut Demi, hampir semua listrik yang didapat dari alam masih berjenis DC. Sementara itu, perkakas rumah tangga seperti TV, kulkas, radio, hingga penanak nasi hanya menerima arus listrik berjenis AC. Jika aneka perlengkapan sehari-hari itu harus menerima listrik berjenis DC, harus ada perombakan besar mulai pabriknya.

’’Di situlah pentingnya komponen inverter,’’ tandas bapak Fikri Fahmi Ludin, Ilmi Ramadhan, dan Desi Fatmawati itu.

Sementara itu, komponen controller charger berfungsi sebagai terminal untuk mengatur penyimpanan listrik hasil penyerapan dari alam. Jika listrik tersebut disimpan dalam power bank alias tidak langsung digunakan, diperlukan peranti controller charger.

Di BPI LIPI, teknologi karya Demi sudah dipakai untuk menghidupkan server komputer. Peranti inverter dan controller charger ditempatkan di sebuah kamar yang tidak terlalu luas. Dia menggunakan brand Sola Wwat (baca Sholawat) 12 kWh untuk mengenalkan produk tersebut.

’’Sola Wwat itu singkatan dari solar (sinar matahari), wind (angin), dan water (air),’’ katanya.

Teknologi itu juga diterapkan di persawahan pedalaman Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Demi memasang perangkat inverter dan controller charger di sebuah gubuk petani di tengah sawah. Di atas gubuk itu, dipasang panel penangkap sinar matahari dan turbin untuk mendapatkan energi dari angin. Listrik yang dihasilkan lalu digunakan untuk menjalankan mesin pompa air. Hasilnya, masalah ketersediaan air yang sering dialami petani pedalaman Samosir bisa tertangani.

’’Selama ini, petani mengandalkan air dari hujan untuk pengairan sawah mereka,’’ ungkapnya.

Demi menyatakan, sebenarnya permukiman petani sudah dialiri listrik PLN. Tetapi, kawasan persawahan yang jauhnya beberapa kilometer dari permukiman penduduk tidak terjangkau listrik PLN. Karena itu, dibutuhkan pembangkit listrik mini di area persawahan tersebut.

Meski secara aplikasi pembangkit listrik hybrid itu sudah bisa digunakan, Demi belum berniat mematenkannya. Dia masih ingin menyempurnakan sehingga lebih baik.

Demi sempat mendapat tawaran dari produsen inverter asal Jepang. Namun, dia menolak meski kerja dan kecanggihannya lebih baik daripada karyanya. ’’Kita tidak boleh menyerah dan berdiam diri karena produk asing lebih canggih. Kita akan semakin tertinggal jika tidak mencoba menciptakan sendiri,’’ tegasnya.

Dia mengidamkan penciptaan smart inverter atau intelligent inverter pada masa mendatang. Disebut smart karena fungsi inverter sudah ditingkatkan sedemikian rupa sehingga bisa menjadi saklar otomatis ketika listrik yang dipakai bersumber dari PLN, angin, matahari, atau air.

Demi menjelaskan, teknologi pembangkit listrik hybrid tidak bisa bergantung sepenuhnya pada sinar matahari atau kencangnya angin saja. Sebab, sumber energi dari alam itu memiliki masa. Misalnya, sinar matahari yang hanya bertahan sekitar 5 jam sehari.

’’Agar terus hidup, harus berkesinambungan antara yang bersumber dari sinar matahari, angin, air, dan dari PLN,’’ ujarnya.

Dia berharap pemerintah segera mengeluarkan road map penggunaan energi ramah lingkungan sehingga produksi masal perlengkapan teknologi pembangkit listrik bersumber energi terbarukan bisa segera diwujudkan. Dengan demikian, ketika produksi masal itu terealisasi, sudah ada komponen penting karya anak bangsa.

Pemegang paten pengaman regulator tabung elpiji itu menjelaskan, ke depan, harus diciptakan pembangkit listrik yang murah dan bisa dilakukan komunitas masyarakat. Dengan nilai investasi sekitar Rp 1 miliar, kelompok masyarakat sudah bisa membuat pembangkit listrik sendiri.

’’Keunggulan konsep ini, jika ada listrik yang berlebih, bisa dijual ke PLN,’’ katanya.

Pembangkit listrik ’’swasta’’ tersebut cukup membantu PLN sehingga tidak perlu membangun pembangkit listrik bermega-mega watt. Dengan cara begitu, PLN bisa berfokus menjual listrik ke sektor industri

Sumber : http://www.jawapos.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *