Screenshot_48
TENGGARONG – Pembangunan bandara dan smart safe regency di Kutai Kartanegara (Kukar) segera berjalan. Menurut rencana, Wapres Jusuf Kalla bersama dua menteri hadir dalam groundbreaking  pada 31 Maret di Desa Jongkang, Kecamatan Loa Kulu.
“Mudah-mudahan tidak ada halangan. Bapak Wapres dipastikan datang untuk meletakkan batu pertama,” ungkap Bupati Kukar Rita Widyasari. JK didampingi Menteri Perhubungan Ignasius Jonan dan Menteri Perindustrian Rahmat Gobel.
Smart safe regency akan dibangun dalam kawasan yang sama dengan bandara di Loa Kulu. Menurut Rita, lokasi tersebut dibangun dari awal sehingga terencana, tertata, dan terkonsep. Sebagai contoh, seluruh utilitas kota di dalam satu jalur seperti kabel listrik, telepon, hingga saluran air.
Di dalam “kota pintar dan aman” ini, mata kamera closed circuit television (CCTV) terpasang di mana-mana. “Peristiwa kejahatan, bencana, dan lain-lain dapat diketahui sejak dini dan cepat diatasi,” jelas Rita.
Ide kota pintar diperoleh ketika Pemkab Kukar mempelajari cara berbenah sebuah kota di Jepang, Kitakyusu. Dari kota yang sangat kotor, Kitakyusu menjadi kota terbersih dengan memanfaatkan sampah menjadi bahan baku industri daur ulang. Di situ, sampah yang dibuang di pabrik daur ulang harus dibayar si pembuang. Masyarakat yang tidak taat didenda, sehingga regulasi sangat efektif menumbuhkan industri daur ulang.
Rita menambahkan, belajar dari Negeri Sakura, masyarakat diajarkan untuk hidup dengan manajemen yang cerdas. Contoh lain, masyarakat diajarkan tidak berlebihan menggunakan listrik dan air serta mengurangi emisi. Semua energi serbahemat karena mengenakan panel tenaga surya, termasuk mobil di dalam kompleks. Dengan lingkungan yang rimbun, rumah-rumah pun tidak memerlukan pendingin ruangan yang bisa menimbulkan efek rumah kaca.
“Di Jepang, program ini bekerja sama dengan 17 perusahaan. Di Indonesia hanya dua, yakni Panasonic dan satu lagi perusahaan dari Jepang,” terang Rita. Jika terwujud, Kukar menjadi yang pertama di Indonesia menerapkan konsep kota pintar.
Rita menegaskan, itu bukan mimpi ataupun proyek mercusuar. Dari sini, kata dia, Kukar bisa bangkit dan menjadi daerah yang luar biasa. “Dengan manajemen publik yang luar biasa, masyarakat hidup tenteram dan aman,” jelasnya.
“Manajemen publik itu yang didahulukan. Tidak ada yang tidak mungkin. Dulu Jakarta juga sederhana, tapi setelah merdeka, perlahan-lahan dibangun dan jadi sangat modern,” terang Rita. Begitu juga Kukar. Meski saat ini kabupaten itu terlihat sangat tertinggal, masyarakat pelan-pelan harus mulai belajar membangun seperti di Jepang.
“Saya punya mimpi daerah Loa Kulu dan daerah Tenggarong menjadi smart city. Pelan-pelan dari satu kota dulu. Kalau bagus, yang lain lama-lama mengikuti. Loa Kulu dijadikan percontohan,” beber Rita.
Groundbreaking bandara dan kota pintar diurus oleh event organizer (EO). Semua biaya ditanggung investor yakni PT Nusa Energindo Persada. Meski tak mengeluarkan sepeser uang pun, banyak hal yang harus ditangani Pemkab Kukar.
“Pemkab pasti mendukung pembangunan bandara dan smart safe regency. Mulai pengamanan hingga memperbaiki lahan serta persiapan yang lain,” terang Rita.
Sementara itu, tentang bandara, Bupati mengatakan sudah tidak ada kendala. Masalah lahan, terutama proses sertifikasi, hampir selesai. Demikian halnya untuk izin bandara, sudah klir.
“Bandara rampung dalam dua tahun. Untuk sementara, berstatus bandara khusus dan hanya untuk kebutuhan perusahaan. Apabila masyarakat mau menggunakan, masih harus menyewa pesawat tapi bisa langsung dari Tenggarong ke Jakarta,” terang Rita. Dia sekaligus menegaskan, bandara di Loa Kulu bukan untuk pesawat perintis. “Pesawat (berbadan) besar juga bisa mendarat,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *