Siswa SMA 1 Purbalingga.bursaenergiIDE awal para siswa SMA 1 Purbalingga itu sederhana, yakni membuat lampu yang digunakan malam hari tidak menyedot listrik PLN, tetapi bisa menyala dengan maksimal.
Karena itu, mereka menciptakan alat yang mampu menyimpan energi matahari untuk menyalakan lampu pada malam hari. Para siswa yang terdiri atas Anggita Adzan Dzuhri, Darmawan Adi Nugroho, Rahmat Faisal Gunawan, dan Umbu Saefudin Prima pun memutar otak untuk menemukan jawabannya.
Akhirnya, mereka menemukan ide menggunakan lampu LED dan solar sel sebagai jawabannya. Upaya itu juga membuahkan hasil sehingga karya mereka dikirim untuk mewakili Purbalingga dalam dalam Lomba Hemat Energi Antar- Setda Se-Jateng.
Dasar pemikiran mereka adalah LED bisa menyala terang dengan daya listrik kecil, sementara solar sel mampu mengubah tenaga matahari menjadi listrik. “Pada mulanya kami bingung membuat solar sel yang mampu menyimpan tenaga listrik untuk menyalakan lampu ketika malam,” kata Umbu.
Beruntung, guru pendamping, Anggi Wismawati dan Eka Yulyanto memberikan solusi berupa powerbank solar sel yang biasa digunakan untuk mengisi ulang baterai ponsel. LED disambungkan ke sumber daya dengan kabel, seperti lampu pada umumnya.
Bedanya, secara otomatis lampu tidak akan menyala bila terkena sinar matahari. ”Lampu ini bertenaga surya. Jadi, di siang hari, solar sel akan di-chargesampai penuh dengan cara dijemur minimal enam jam untuk cuaca cerah. Kalau mendung bisa seharian, dari pagi sampai sore,” imbuh Faisal.
Dia juga mengungkapkan, ketika dijemur, solar sel menyerap tenaga surya. Jika dijemur sampai daya penuh, mampu menyalakan lampu LED 10 jam. Semakin besar solar sel, semakin banyak daya yang diserap, semakin lama dan semakin banyak lampu yang bisa dinyalakan.
Pakai Air
”Solar sel yang berfungsi sebagai power bank, telah menyimpan daya. Solar sel ini disambungkan dengan lampu LED, kecil saja, lalu dihadapkan ke air yang telah dimasukkan dalam wadah seperti bekas botol air mineral. Air ini berfungsi untuk membiaskan cahaya dari lampu LED. Inilah cara kerja lampu solar sel hemat energi. Sama sekali tidak membutuhkan listrik PLN,” papar Anggita.
Jika menggunakan solar sel seukuran smartphone android, lampu yang dihasilkan tidak terlalu terang dibanding neon. Namun lampu dapat direkomendasikan untuk pemakaian outdoor malam hari, seperti lampu taman dan jalan. ”Kami berharap, ciptaan kami bisa diaplikasikan, minimal di sekolah kami. Hanya saja, ada kendala bahan baku yang mahal, terutama solar sel.
Yang paling kecil seperti ini harganya Rp 300 ribu,” ungkapnya. Meski pada awalnya mahal, lanjut Darmawan, namun selanjutnya jauh lebih hemat. Lampu minim biaya perawatan dan rekening listrik. ”Paling-paling mengganti air dan mengelap wadahnya,” ujarnya.
Meski baru sebatas prototipe, namun penemuan sederhana ini bisa dikembangkan menjadi alat yang lebih komplek. Semisal menjadi lampu taman dimana lampu ini bisa ditempatkan di kolam taman. ”Sekolah sudah punya baterai dan solar sel dengan daya cukup besar. Kami akan membuat lampu taman depan masjid sekolah,” katanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *