081417800_1426170353-20121010OptimalisasiEnergiTerbarukan091012-SK-1

Yogyakarta – Jajaran kincir angin dan solar cell terlihat di dekat Pantai Gesing yang berada di Dusun Bolang, Desa Girikarto, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, beberapa waktu lalu. Tenaga surya dan angin itu kini bisa dinikmati nelayan setempat.

Gabungan tenaga surya dan angin menjadi pilihan karena letak pantai yang menghadap Samudera Hindia yang anginnya cukup kencang dan panas sinar Matahari hampir sepanjang hari menyinari wilayah ini. Sekitar 50 warga dusun dapat menikmati listrik yang ramah lingkungan.

Energi baru dan terbarukan (EBT) ini potensial diterapkan di wilayah terpencil dan perbatasan. Pemerintah berharap dalam lima tahun ke depan seluruh desa di perbatasan sudah menikmati listrik. Membangun pembangkit skala kecil dengan EBT jadi pilihan.

Desa-desa di perbatasan dan di wilayah terpencil sulit dijangkau jaringan listrik Perusahaan Listrik Negara (PLN). Agar target elektrifikasi nasional terwujud, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyiapkan beberapa model pembangkit listrik skala kecil dengan EBT. Selain potensi EBT di Indonesia melimpah, pembangkit dengan EBT ini ramah lingkungan, efisien karena lebih murah, dan lebih cepat pembangunannya.

Pemanfaatan EBT untuk pembangkit listrik, terutama tenaga angin atau bayu di Indonesia saat ini masih sangat rendah. Total kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di Indonesia masih sekitar 800 KiloWatt. Padahal di Indonesia, yang sebagian besar wilayahnya merupakan pesisir laut memiliki potensi tenaga angin yang melimpah.

Potensi ini juga mengacu pada kerangka kebijakan energi nasional untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil pemerintah menargetkan pada tahun 2015 pembangunan PLTB mencapai 250 Megawatt (MW).

Menteri ESDM Sudirman Said mengatakan Indonesia sudah sangat menguasai teknologi PLTB. Beberapa PLTB di kini beroperasi, misalnya PLTB 100 KW di Sukabumi, Jawa Barat yang merupakan pilot project PLTB di Indonesia, dibangun dengan teknologi inovasi Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) ESDM.

“Balitbang_ESDM_telah banyak mengha-silkan inovasi teknologi, termasuk di bidang ketenagalistrikan. Kami mendorong agar hasil-hasil Litbang ESDM lebih banyak yang terimplementasi, bahkan sampai skala industri, agar manfaatnya lebih dirasakan masyarakat,” kata Sudirman, seperti dimuat situs Sains Indonesia, Kamis (12/3/2015).

Kepala Balitbang ESDM, FX Sutijastoto mengatakan agar hasil-hasil Litbang segera tampak di industri telah dibentuk Tim Inkubator yang beranggotakan para peneliti senior dan pakar.

Tugas tim ini mendorong agar penelitian tidak sekadar mengejar angka kredit sehingga hasil-hasil Litbang juga tidak berhenti pada tahap prototipe. Kegiatan Litbang ESDM harus didasari pada market driven atau kebutuhan pasar.

Sumber : news.liputan6.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *