plts sangihe.bursaenergi
SONORA.CO.ID – Saat malam menjemput di Pulau Kawaluso, Kecamatan Kepulauan Marore, Sulawesi Utara, beberapa ibu datang berkumpul di samping rumah kepala desa setempat.
Sebuah televisi yang tersambung dengan antena parabola menjadi tujuan mereka. Menonton acara televisi kini menjadi salah satu hiburan warga desa saat malam tiba. Perangkat televisi itu milik desa yang dibeli agar warga yang tidak mampu bisa menonton juga.
Dulunya, televisi adalah barang mewah, bukan karena soal harganya, melainkan tak ada tenaga listrik untuk menghidupkannya. Kalaupun ada, itu hanya bisa dimiliki warga yang mampu membeli genset.
“Kami membeli solar saat ada kapal merapat, satu galon seharga Rp 150.000. Dalam sebulan, paling kurang kami harus habiskan dua galon untuk genset. Tapi, kini genset tidak lagi dioperasikan karena sudah ada tenaga listrik matahari,” ujar Kepala Urusan Pemerintahan Desa Kawaluso Hery Totaeng.
Tenaga listrik matahari yang dimaksud oleh Totaeng adalah sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terpusat berkapasitas 50 kWp yang dibangun oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI yang bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI.
PLTS itu menerangi semua rumah warga di Pulau Kawaluso sebanyak 195 pelanggan rumah tangga. Dengan pasokan listrik sebesar itu, warga Kawaluso hanya dibebankan biaya iuran listrik Rp 6.000 per bulan. Iuran itu untuk biaya operasional Kelompok Pengelola Listrik Desa dan menjadi dana cadangan jika ada kendala yang harus dibiayai.
“Masing-masing rumah mendapat jatah harian 450 watt yang dikontrol lewat peralatan kWh limiter. Jadi semuanya adil mendapat pasokan listrik yang sama,” kata Kepala Desa Kawaluso, Benny Barahama, Selasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *