Sebagian masyarakat yang tinggal di sekitar 100 pulau di kawasan Indonesia bagian timur tidak lama lagi akan dapat menikmati listrik. Ini akan terwujud jika PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) selesai membangun pembangkit-pembangkit listrik tenaga surya di daerah kepulauan itu tahun ini .

Menurut Direktur Operasi Indonesia Timur PLN Vicker Sinaga, Jumat (8/4/2011), dalam jumpa pers, di kantor Pusat PT PLN, Jakarta, selama ini rasio elektrifikasi di beberapa provinsi di Indonesia bagian timur masih sekitar 30 persen. Selain itu, daftar tunggu sambungan listrik di kawasan itu masih panjang.

Untuk itu, perseroan tersebut menargetkan penambahan jumlah pelanggan PLN di kawasan itu tahun ini sebanyak 1,1 juta pelanggan, dan 370.000 pelanggan di antaranya akan dialiri listrik dari pembangkit-pembangkit listrik tenaga surya. Sebab, jika menggunakan jaringan reguler, maka butuh waktu lama untuk meningkatkan rasio elektrifikasi di daerah itu.

Tahun ini PLN akan membangun 124 pembangkit tenaga surya di Indonesia bagian timur tahun ini. Rinciannya, 15 lokasi di 15 kabupaten di Papua dan Papua Barat dengan total daya 4.500 kilo Watt Peak (kWP).

Perseroan itu juga akan membangun 109 pembangkit tenaga surya di sekitar 100 pulau dengan total kapasitas 18.150 kWp yang tersebar di sejumlah provinsi di antaranya Papua, Papua Barat, Maluku dan Nusa Tenggara Timur.

Untuk sistem PLTS mandiri, biaya penyambungan Rp 3,5 juta per pelanggan dan itu ditanggung PLN. Sedangkan pelanggan wajib membayar uang jaminan Rp 500.000 dan biaya berlangganan Rp 35.000 per bulan.

“Setiap pelanggan dapat tiga lampu super ekstra hemat energi (SEHEN) 2-3 watt. Lebih murah kan jika dibandingkan pakai lampu petromax yang butuh beli minyak tanah Rp 90.000 per bulan,” kata dia.

Menurut Sekretaris Eksekutif Direktur Operasi Indonesia Timur PLN Martono, saat ini pembangunan ratusan PLTS itu baru tahap penyiapan dokumen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *