Lampu Jalan.Bursaenergi
REPUBLIKA.CO.ID, SOLO — Upaya menghemat penggunaan daya listrik — sebagai dampak kebijakan Kenaikkan TDL (Tarif Dasar Listrik) — Pemerintah Kota Solo langsung mengganti lampu PJU (Penerangan Jalan Umum). Pemkot mengganti ‘lampu pintar’ sepanjang jalan protokol, guna menghemat penggunaan energi.
Pemkot Solo melalui Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) melakukan penggantian lampu penerangan jalan umum (PJU) di 22 titik sepanjalan jalan protokol Jl Slamet Riyadi. Hal ini dilakukan untuk mensukseskan program penghematan energi sebagaimana dicanangkan pemerintah pusat, beberapa waktu lalu.
“Pemasangan ‘lampu pintar’ dilakukan lantaran mampu menghemat energi dari sebelumnya. Setiap lampu konvensional berdaya 400 Watt, sekarang diganti menjadi 180 Watt dengan intensitas cahaya sama,” tutur Joko Purwanto, petugas lapangan dari staf DKP Kota Solo, Rabu (3/9).
Seperti dketahui, ‘lampu pintar’ dilengkapi dengan pengendali jarak jauh. Sehingga memungkinkan petugas bisa mengatur intensitas cahaya dibutuhkan pada saat jam tertentu. “Jadi, sangat membantu anggaran pembiayaan. Ini karena, lampu ini bisa menghemat energi antara 40 hingga 60 persen,” tambah Joko.
‘Lampu pintar’ ini sendiri, sebelumnya telah diujicobakan di berbagai daerah di Indonesia. Seperti, Jakarta, Bandung, Kabupaten Sleman dan Denpasar. Rencananya, pemkot akan melanjutkan penggantian lampu hemat energi secara bertahap. Mulai dari Jl Slamet Riyadi hingga seluruh PJU yang lain.
Pemkot Solo sangat berkepentingan melakukan penghematan penggunaan energi listrik untuk PJU. Masalahnya, hampir setiap tahun nunggak pembayaran listrik. Tahun ini saja, juga mengalami penunggakan.
Pemerintah Kota (Pemkot) Solo mutar otak lagi, untuk melakukan efisiensi penggunaan listrik. Langkah ini harus dilakukan guna menghadapi kenaikkan TDL (Tarif Dasar Listrik) yang ditetapkan PT PLN (Persero) mulai Senin (1/9) lalu.
Pemkot menunggak dalam membayar pajak PJU. Ini karena, alokasi untuk membayar pajak tidak cukup. “Kalau tidak cukup, ya mau tidak mau ngutang dulu. Nanti dibayar 2015,” kata Hadi Rudiyatmo, Walikota Solo.
Rudy, panggilan akrab walikota, sudah memprediksi beban anggaran untuk membayar pajak PJU tambah naik — dengan kebijakan kenaikkan TDL oleg PT PLN (Persero). Dengan adanya prediksi kenaikkan ini, pemkot mau tidak mau harus mulai mengefisiensi penggunaan listrik.
Efisiensi penggunaan listrik, kata Rudy, sudah hal yang harus dilakukan. Menurutnya, karena kalau tidak, maka anggaran yang sudah dialokasikan untuk pajak PJU tidak akan cukup untuk membayar pajak 2014 ini. Ini berarti tunggakan pajak PJU tambah lebih besar lagi.
Ada opsi lain, menurut Rudy, dengan mengganti seluruh PJU yang jumlahnya mencapai 16.169 titik dengan PJU pintar. Kata dia, penggunaan PJU pintar akan menghemat anggaran sampai 50 persen. Langkah ini seperti yang akan ditempuh Pemkot Solo.
Kenaikkan TDL membuat anggaran Pemkot Solo yang dialokasikan untuk pembayaran pajak PJU membengkak. Tahun ini, pajak PJU diperkirakan akan naik sebesar Rp 2 milyar. Sementara, dana yang dialokasikan untuk PJU hanya Rp 30 milyar.
Rudy menambahkan, prediksi kenaikkan ini sudah terlihat dari pajak yang terhitung hingga Agustus ini, yakni sudah mencapai Rp 24 milyar. “Lha ini /kan/ baru bulan ke delapan. Masih ada empat bulan lagi. Kalau begitu, pajak kita nunggak lagi”.REPUBLIKA.CO.ID, SOLO — Upaya menghemat penggunaan daya listrik — sebagai dampak kebijakan Kenaikkan TDL (Tarif Dasar Listrik) — Pemerintah Kota Solo langsung mengganti lampu PJU (Penerangan Jalan Umum). Pemkot mengganti ‘lampu pintar’ sepanjang jalan protokol, guna menghemat penggunaan energi.
Pemkot Solo melalui Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) melakukan penggantian lampu penerangan jalan umum (PJU) di 22 titik sepanjalan jalan protokol Jl Slamet Riyadi. Hal ini dilakukan untuk mensukseskan program penghematan energi sebagaimana dicanangkan pemerintah pusat, beberapa waktu lalu.
“Pemasangan ‘lampu pintar’ dilakukan lantaran mampu menghemat energi dari sebelumnya. Setiap lampu konvensional berdaya 400 Watt, sekarang diganti menjadi 180 Watt dengan intensitas cahaya sama,” tutur Joko Purwanto, petugas lapangan dari staf DKP Kota Solo, Rabu (3/9).
Seperti dketahui, ‘lampu pintar’ dilengkapi dengan pengendali jarak jauh. Sehingga memungkinkan petugas bisa mengatur intensitas cahaya dibutuhkan pada saat jam tertentu. “Jadi, sangat membantu anggaran pembiayaan. Ini karena, lampu ini bisa menghemat energi antara 40 hingga 60 persen,” tambah Joko.
‘Lampu pintar’ ini sendiri, sebelumnya telah diujicobakan di berbagai daerah di Indonesia. Seperti, Jakarta, Bandung, Kabupaten Sleman dan Denpasar. Rencananya, pemkot akan melanjutkan penggantian lampu hemat energi secara bertahap. Mulai dari Jl Slamet Riyadi hingga seluruh PJU yang lain.
Pemkot Solo sangat berkepentingan melakukan penghematan penggunaan energi listrik untuk PJU. Masalahnya, hampir setiap tahun nunggak pembayaran listrik. Tahun ini saja, juga mengalami penunggakan.
Pemerintah Kota (Pemkot) Solo mutar otak lagi, untuk melakukan efisiensi penggunaan listrik. Langkah ini harus dilakukan guna menghadapi kenaikkan TDL (Tarif Dasar Listrik) yang ditetapkan PT PLN (Persero) mulai Senin (1/9) lalu.
Pemkot menunggak dalam membayar pajak PJU. Ini karena, alokasi untuk membayar pajak tidak cukup. “Kalau tidak cukup, ya mau tidak mau ngutang dulu. Nanti dibayar 2015,” kata Hadi Rudiyatmo, Walikota Solo.
Rudy, panggilan akrab walikota, sudah memprediksi beban anggaran untuk membayar pajak PJU tambah naik — dengan kebijakan kenaikkan TDL oleg PT PLN (Persero). Dengan adanya prediksi kenaikkan ini, pemkot mau tidak mau harus mulai mengefisiensi penggunaan listrik.
Efisiensi penggunaan listrik, kata Rudy, sudah hal yang harus dilakukan. Menurutnya, karena kalau tidak, maka anggaran yang sudah dialokasikan untuk pajak PJU tidak akan cukup untuk membayar pajak 2014 ini. Ini berarti tunggakan pajak PJU tambah lebih besar lagi.
Ada opsi lain, menurut Rudy, dengan mengganti seluruh PJU yang jumlahnya mencapai 16.169 titik dengan PJU pintar. Kata dia, penggunaan PJU pintar akan menghemat anggaran sampai 50 persen. Langkah ini seperti yang akan ditempuh Pemkot Solo.
Kenaikkan TDL membuat anggaran Pemkot Solo yang dialokasikan untuk pembayaran pajak PJU membengkak. Tahun ini, pajak PJU diperkirakan akan naik sebesar Rp 2 milyar. Sementara, dana yang dialokasikan untuk PJU hanya Rp 30 milyar.
Rudy menambahkan, prediksi kenaikkan ini sudah terlihat dari pajak yang terhitung hingga Agustus ini, yakni sudah mencapai Rp 24 milyar. “Lha ini /kan/ baru bulan ke delapan. Masih ada empat bulan lagi. Kalau begitu, pajak kita nunggak lagi”.REPUBLIKA.CO.ID, SOLO — Upaya menghemat penggunaan daya listrik — sebagai dampak kebijakan Kenaikkan TDL (Tarif Dasar Listrik) — Pemerintah Kota Solo langsung mengganti lampu PJU (Penerangan Jalan Umum). Pemkot mengganti ‘lampu pintar’ sepanjang jalan protokol, guna menghemat penggunaan energi.
Pemkot Solo melalui Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) melakukan penggantian lampu penerangan jalan umum (PJU) di 22 titik sepanjalan jalan protokol Jl Slamet Riyadi. Hal ini dilakukan untuk mensukseskan program penghematan energi sebagaimana dicanangkan pemerintah pusat, beberapa waktu lalu.
“Pemasangan ‘lampu pintar’ dilakukan lantaran mampu menghemat energi dari sebelumnya. Setiap lampu konvensional berdaya 400 Watt, sekarang diganti menjadi 180 Watt dengan intensitas cahaya sama,” tutur Joko Purwanto, petugas lapangan dari staf DKP Kota Solo, Rabu (3/9).
Seperti dketahui, ‘lampu pintar’ dilengkapi dengan pengendali jarak jauh. Sehingga memungkinkan petugas bisa mengatur intensitas cahaya dibutuhkan pada saat jam tertentu. “Jadi, sangat membantu anggaran pembiayaan. Ini karena, lampu ini bisa menghemat energi antara 40 hingga 60 persen,” tambah Joko.
‘Lampu pintar’ ini sendiri, sebelumnya telah diujicobakan di berbagai daerah di Indonesia. Seperti, Jakarta, Bandung, Kabupaten Sleman dan Denpasar. Rencananya, pemkot akan melanjutkan penggantian lampu hemat energi secara bertahap. Mulai dari Jl Slamet Riyadi hingga seluruh PJU yang lain.
Pemkot Solo sangat berkepentingan melakukan penghematan penggunaan energi listrik untuk PJU. Masalahnya, hampir setiap tahun nunggak pembayaran listrik. Tahun ini saja, juga mengalami penunggakan.
Pemerintah Kota (Pemkot) Solo mutar otak lagi, untuk melakukan efisiensi penggunaan listrik. Langkah ini harus dilakukan guna menghadapi kenaikkan TDL (Tarif Dasar Listrik) yang ditetapkan PT PLN (Persero) mulai Senin (1/9) lalu.
Pemkot menunggak dalam membayar pajak PJU. Ini karena, alokasi untuk membayar pajak tidak cukup. “Kalau tidak cukup, ya mau tidak mau ngutang dulu. Nanti dibayar 2015,” kata Hadi Rudiyatmo, Walikota Solo.
Rudy, panggilan akrab walikota, sudah memprediksi beban anggaran untuk membayar pajak PJU tambah naik — dengan kebijakan kenaikkan TDL oleg PT PLN (Persero). Dengan adanya prediksi kenaikkan ini, pemkot mau tidak mau harus mulai mengefisiensi penggunaan listrik.
Efisiensi penggunaan listrik, kata Rudy, sudah hal yang harus dilakukan. Menurutnya, karena kalau tidak, maka anggaran yang sudah dialokasikan untuk pajak PJU tidak akan cukup untuk membayar pajak 2014 ini. Ini berarti tunggakan pajak PJU tambah lebih besar lagi.
Ada opsi lain, menurut Rudy, dengan mengganti seluruh PJU yang jumlahnya mencapai 16.169 titik dengan PJU pintar. Kata dia, penggunaan PJU pintar akan menghemat anggaran sampai 50 persen. Langkah ini seperti yang akan ditempuh Pemkot Solo.
Kenaikkan TDL membuat anggaran Pemkot Solo yang dialokasikan untuk pembayaran pajak PJU membengkak. Tahun ini, pajak PJU diperkirakan akan naik sebesar Rp 2 milyar. Sementara, dana yang dialokasikan untuk PJU hanya Rp 30 milyar.
Rudy menambahkan, prediksi kenaikkan ini sudah terlihat dari pajak yang terhitung hingga Agustus ini, yakni sudah mencapai Rp 24 milyar. “Lha ini /kan/ baru bulan ke delapan. Masih ada empat bulan lagi. Kalau begitu, pajak kita nunggak lagi”.REPUBLIKA.CO.ID, SOLO — Upaya menghemat penggunaan daya listrik — sebagai dampak kebijakan Kenaikkan TDL (Tarif Dasar Listrik) — Pemerintah Kota Solo langsung mengganti lampu PJU (Penerangan Jalan Umum). Pemkot mengganti ‘lampu pintar’ sepanjang jalan protokol, guna menghemat penggunaan energi.
Pemkot Solo melalui Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) melakukan penggantian lampu penerangan jalan umum (PJU) di 22 titik sepanjalan jalan protokol Jl Slamet Riyadi. Hal ini dilakukan untuk mensukseskan program penghematan energi sebagaimana dicanangkan pemerintah pusat, beberapa waktu lalu.
“Pemasangan ‘lampu pintar’ dilakukan lantaran mampu menghemat energi dari sebelumnya. Setiap lampu konvensional berdaya 400 Watt, sekarang diganti menjadi 180 Watt dengan intensitas cahaya sama,” tutur Joko Purwanto, petugas lapangan dari staf DKP Kota Solo, Rabu (3/9).
Seperti dketahui, ‘lampu pintar’ dilengkapi dengan pengendali jarak jauh. Sehingga memungkinkan petugas bisa mengatur intensitas cahaya dibutuhkan pada saat jam tertentu. “Jadi, sangat membantu anggaran pembiayaan. Ini karena, lampu ini bisa menghemat energi antara 40 hingga 60 persen,” tambah Joko.
‘Lampu pintar’ ini sendiri, sebelumnya telah diujicobakan di berbagai daerah di Indonesia. Seperti, Jakarta, Bandung, Kabupaten Sleman dan Denpasar. Rencananya, pemkot akan melanjutkan penggantian lampu hemat energi secara bertahap. Mulai dari Jl Slamet Riyadi hingga seluruh PJU yang lain.
Pemkot Solo sangat berkepentingan melakukan penghematan penggunaan energi listrik untuk PJU. Masalahnya, hampir setiap tahun nunggak pembayaran listrik. Tahun ini saja, juga mengalami penunggakan.
Pemerintah Kota (Pemkot) Solo mutar otak lagi, untuk melakukan efisiensi penggunaan listrik. Langkah ini harus dilakukan guna menghadapi kenaikkan TDL (Tarif Dasar Listrik) yang ditetapkan PT PLN (Persero) mulai Senin (1/9) lalu.
Pemkot menunggak dalam membayar pajak PJU. Ini karena, alokasi untuk membayar pajak tidak cukup. “Kalau tidak cukup, ya mau tidak mau ngutang dulu. Nanti dibayar 2015,” kata Hadi Rudiyatmo, Walikota Solo.
Rudy, panggilan akrab walikota, sudah memprediksi beban anggaran untuk membayar pajak PJU tambah naik — dengan kebijakan kenaikkan TDL oleg PT PLN (Persero). Dengan adanya prediksi kenaikkan ini, pemkot mau tidak mau harus mulai mengefisiensi penggunaan listrik.
Efisiensi penggunaan listrik, kata Rudy, sudah hal yang harus dilakukan. Menurutnya, karena kalau tidak, maka anggaran yang sudah dialokasikan untuk pajak PJU tidak akan cukup untuk membayar pajak 2014 ini. Ini berarti tunggakan pajak PJU tambah lebih besar lagi.
Ada opsi lain, menurut Rudy, dengan mengganti seluruh PJU yang jumlahnya mencapai 16.169 titik dengan PJU pintar. Kata dia, penggunaan PJU pintar akan menghemat anggaran sampai 50 persen. Langkah ini seperti yang akan ditempuh Pemkot Solo.
Kenaikkan TDL membuat anggaran Pemkot Solo yang dialokasikan untuk pembayaran pajak PJU membengkak. Tahun ini, pajak PJU diperkirakan akan naik sebesar Rp 2 milyar. Sementara, dana yang dialokasikan untuk PJU hanya Rp 30 milyar.
Rudy menambahkan, prediksi kenaikkan ini sudah terlihat dari pajak yang terhitung hingga Agustus ini, yakni sudah mencapai Rp 24 milyar. “Lha ini /kan/ baru bulan ke delapan. Masih ada empat bulan lagi. Kalau begitu, pajak kita nunggak lagi”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *