Gerhana Matahari.bursaenergiVIVA.co.id – Masyarakat yang menggunakan teknologi solar cell atau pemanfataan cahaya Matahari untuk pembangkit listrik disarankan menyediakan cadangan pembangkit listrik lain saat gerhana Matahari total (GMT) pada 9 Maret 2016. “Pada saat GMT, cahaya berkurang, karena Mataharinya tertutup, jadi pasokan cahaya yang jatuh ke solar cell itu akan berkurang sekali,” kata dosen astronomi pada Institut Teknologi Bandung (ITB), Premana Premadi, kepada VIVA.co.id seusai Diskusi Gerhana Matahari Total di Planetarium Taman Ismail Mazuki, Jakarta, Kamis, 25 Februari 2016.
Premana menceritakan bahwa peristiwa fenomena alam langka serupa terjadi di Eropa tahun lalu. Eropa hampir bergantung pada teknologi solar cell untuk pembangkit listrik. Namun aktivitas perkantoran maupun penerangan di rumah terus berjalan. “Mereka (Eropa) sudah siapkan, misalkan pembangkit listrik yang lain, batu bara, atau lain, sehingga beberapa jam GMT pasokan catu listrik tidak terganggu,” ujarnya.
Jika dihitung, fenomena alam langka GMT, tiba kurang dari dua pekan lagi. Fenomena itu disebut langka, sebab peristiwa yang sama akan tiba 350 tahun kemudian.
Ada 12 provinsi di Indonesia yang dapat menyaksikan peristiwa langka itu. Wilayah tersebut adalah Bengkulu, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara.
Tujuh kota yang dilewati GMT adalah Bengkulu, Palembang, Samarinda, Palu, Tanjung Pandan, Pangkalan Bun, dan Ternate. Selain itu, sejumlah daerah lain di Indonesia bisa menyaksikan gerhana Matahari sebagian, antara lain, Padang, Jakarta, Bandung, Surabaya, Pontianak, Denpasar, Banjarmasin, Makassar, Kupang, Manado, dan Ambon.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *