Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Nur Pamudji ogah membuat pembangkit listrik tenaga angin. Ia beralasan, untuk membuat pembangkit tersebut memerlukan biaya yang tidak sedikit dan tidak efektif.

“Untuk membuat pembangkit listrik tenaga angin itu harus memiliki angin yang stabil. Selain itu perlu waktu puluhan tahun untuk mencari lokasi titik angin yang bagus sepanjang tahun,” kata Nur saat ditemui di kantornya, Jakarta, Selasa (19/3/2013).

Berdasarkan penelitiannya, memang pernah dilakukan studi untuk pembangkit listrik tenaga angin khususnya untuk pengukuran tenaga angin di Pantai Samas Yogyakarta. Di lokasi ini, tenaga anginnya bagus sejak pukul 9 pagi hingga 9 malam. Namun di lokasi tersebut belum menjamin tenaga anginnya akan stabil sepanjang tahun. Sebab, jika lokasi ini dipaksa memakai pembangkit listrik tenaga angin juga harus dibangun pembangkit listrik lainnya untuk mengantisipasi tenaga angin yang berkurang.

“Untuk menentukan lokasi pembangkit angin ini minimal harus setahun hingga 20 tahun. Tenaga anginnya stabil atau tidak. Kan tidak mungkin saat tenaga anginnya kecil, listrik warga terpaksa dipadamkan,” tambahnya.

PLN tentu saja harus mengimbangi dengan pembangkit listrik tenaga batubara atau diesel untuk mengantisipasi tenaga angin yang tidak stabil tersebut.

Hal ini juga berlaku juga dengan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Meski Indonesia masuk negara tropis dan dilimpahi tenaga matahari sepanjang tahun, PLN masih menghitung untuk investasi PLTS ini sangatlah mahal.

“Harga baterai untuk menyimpan cadangan tenaga matahari ini bisa tiga kali lipat dibanding panel,” kata Nur.

Apalagi untuk bisa menampung listrik yang banyak dari PLTS ini maka PLN harus memperbanyak jumlah panel dan meletakkan panel tersebut di lokasi yang banyak sinar mataharinya.

“Untuk pulau Jawa dan Sumatra belum cocok memakai PLTS. Listrik tenaga matahari hanya cocok untuk daerah pelosok atau kepulauan yang berpenduduk kecil,” katanya.

Hingga saat ini, PLN masih menggunakan pembangkit dengan bahan bakar batubara. Selain teknologinya sudah matang, pembangkit ini juga tidak tergantung alat khusus untuk membangkitkan pembangkit tersebut.

Sumber By   www.Kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *