Gili Trawangan – NTB (23/10): PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) menargetkan 7 pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) baru di Kepulauan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) akan beroperasi pada pertengahan 2013. Investasi 7 PLTS dengan total kapasitas lebih dari 900 kilo watt peak (kwp) mencapai senilai Rp 33 miliar.

“Sekarang sedang tahap proses lelang 7 lokasi dengan kapasitas yang bervariasi. Diperkirakan masa kontruksi PLTS sekitar 3 bulan. Jadi, pertengahan tahun depan 7 PLTS ini sudah bisa operasi,” kata Deputi Manager Perencanaan PT PLN Wilayah NTB Anang Imam S di Gili Trawangan, Mataram, NTB, Selasa (23/10). Ke-7 lokasi tersebut berada di Kepulauan Sumbawa meliputi Pulau Medang, Sekotok, Moyo, Bajo pulo, Maringkik dan 3 sub ranting yaitu Lantung, Lebin dan Lawis.

Menurut Anang Imam, 7 PLTS baru dengan total sekitar 900 kwp mampu mengurangi konsumsi pemakaian bahan bakar minyak (BBM) pembangkit listrik diesel cukup signifikan, yakni setara dengan penghematan biaya operasional penyediaan listrik sekitar Rp 2 miliar per bulan.

Sebelumnya, PLN NTB sudah mengoperasikan 3 PLTS di 3 pulau kawasan wisata dengan total kapasitas 820 kwp yaitu Gili Trawangan berkapasitas 600 kwp, Gili Air 160 kwp dan Gili Meno berkapasitas 60 Kwp. Menurut dia, efisiensi atau penghematan biaya operasional mencapai sekitar Rp 1,8 miliar per bulan. Untuk PLTS Gili Trawangan tahap I berkapasitas 200 kwp sudah beroperasi sejak Maret 2011 dan tahap II berkapasitas 400 kwp beroperasi pada Mei 2012. Total investasi 2 unit PLTS tersebut mencapai hampir Rp 25 miliar.

“Dua unit PLTS dengan luas lahan 2,5 hektare (ha) ini terdiri dari 3.300 Photovoltaic Module (PV Modul). Sedangkan lahan PLTS disediakan pemerintah daerah sebagai dukungan terhadap program go green solution,” ujar Anang Imam. Selain itu, dia juga mengatakan,
listrik PLTS langsung masuk ke sistem jaringan 20 kilo Volt (kV). Saat ini, sistem kelistrikan Lombok dan 3 Gili yang sudah terkoneksi dengan kabel bawah laut sejak 19 September 2012 lalu. “Dengan beroperasinya kabel bawah laut juga mendong efisiensi biaya operasional kelistrikan di sistem ini mencapai Rp 22 miliar per bulan,” kata Anang Imam.

Pariwisata

Di sisi lain, keberhasilan mengembangkan PLTS di sejumlah pulau yang banyak tersebar di wilayah timur Indonesia ini, tidak hanya mengurangi ketergantungan pada BBM dan mempercepat peningkatan ratio elektrifikasi, namun sekaligus juga menggerakkan roda perekonomian masyarakat setempat.

Wawancara-Tokoh-Masyarakat-Gili-Trawangan-300x175Tokoh masyarakat Gili Trawangan, H Gufron (60) yang ditemui HU Suara Karya mengatakan, mayoritas penduduk setempat yang menggantungkan penghasilan dari sektor pariwisata. Sejak beroperasinya sistem interkoneksi kabel bawah laut dari Lombok ke Giri Trawangan pada September lalu, pasokan listrik makin stabil. Selain itu, pembangkit diesel di Gili Trawangan secara bertahap sudah tidak hentikan operasinya.

“Pemadaman sudah jauh berkurang dari sebelumnya yang hampir setiap hari. Sekarang juga sudah berkurang suara bising mesin diesel tidak seperti dulu, sehingga wisatawan mancanegara semakin tertarik,” ujarnya. Saat ini, kata dia, daya listrik untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga rata-rata 1.300 volt amphere (VA). “Tiap bulan pembayaran listrik sebesar Rp 300.000, karena rumah penduduk juga menyewakan kamar kos-kosan,” ujar H Gufron.

Hal senada juga diakui H Hanafi. Menurut dia, kondisi kelistrikan sebelum ada kabel bawah laut sangat berbeda karena sebelumnya pasokan listrik disuplai PLTD. “Bukan hanya suaranya yang sangat mengganggu, tapi juga pasokan BBM untuk PLTD sering terkendala ombak besar dan angin. Jadi pulau ini terpaksa padam,” tutur dia. Dia menambahkan, masyarakat Gili Trawangan yang mengelola layanan dan jasa pendukung sektor pariwisata pantai optimistis sistem kelistrikan dan penyediaan energi yang dilakukan PLN akan semakin memajukan sektor pariwisata di pulau tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *