PLTS RiauRiau sudah saatnya mulai melirik Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai sumber energi. Meskipun propinsi ini kaya dengan minyak bumi dan batu bara, energi berbahan fosil ini akan segera habis. PLTS layak dilirik karena sumbernya tidak terbatas dan bersumber langsung dari sinar matahari.
Ketua Enreach UIN Suska, Kunaifi menuturkan pemanfaatan PLTS bisa menjadi solusi pemenuhan energi seperti listrik di Riau. Melihat dari potensi kebutuhan, ada tiga kabupaten yang sangat butuh yaitu Meranti, Inhil dan Inhu.
Dipilihnya PLTS sebagai solusi karena berbentuk modular. Ukuran yang dibuat pun bisa disesuaikan tanpa harus langsung berukuran besar. Selain itu posisi Riau dekat khatulistiwa, disinari matahari sepanjang tahun.
“Kalau mikrohydro tergantung lokasi. Begitu juga biomassa akan dipengaruhi bila ada replanting. Sementara surya ini abadi di Riau,’ katanya, Senin (3/8/2015)
Potensi PLTS ini, lanjutnya ada dimana-mana. Namun dalam menghadirkan PLTS, harus ada perubahan tujuan dari awalnya meningkatkan rasio elektrifikasi menjadi mengganti penggunaan bahan bakar fosil. PLTS juga bisa terkoneksi dengan PLN sehingga kelebihan energi yang dihasilkan bisa disalurkan lagi.
“Riau harus melirik energi lain selain minyak yang hampir habis. Kalau tidak kita tak akan mandiri,” katanya.
Di Riau saat ini belum ada yang bisa menjual energi pada PLN dengan sumber energi terbarukan. Meskipun beberapa perusahaan di Riau sudah ada yang menghasilkan energi diluar bahan bakar fosil, namun sebatas memenuhi kebutuhan internal mereka.
Namun diakui Kunaifi, untuk investasi awal relatif lebih besar dari konvensional. Tapi dalam perjalanannya biaya yang dikeluarkan jauh lebih kecil.
Untuk menghasilkan sekitar 1 MW listrik, dibutuhkan sekitar lahan satu hektar untuk panel surya. Tapi saat ini sudah berkembang kemungkinan lain tanpa harus menyediakan lahan kosong. Menghasilkan energi dari surya ini bisa memanfaatkan atap.
Kantor pemerintahan selama ini atapnya tidak terpakai. Seharusnya kantor pemerintahan yang akan dibangun tidak lagi menggunakan seng atau genteng. Tapi menggunakan panel surrya sebagai pengganti atap.
Pola ini sudah jamak dilakukan negara-negara Eropa.
Rumah penduduk sudah memanfaatkan panel surya sebagai atap. Bahkan masyarakat berkesempatan menjual energi yang mereka hasilkan dari panel surya selain digunakan sendiri.
Selain tenaga surya, potensi besar di propinsi ini adalah Biomassa. Dari tiap pabrik kelapa sawit berkapasitas 30 ton perjam bisa hasilkan listrik kapasitas 1 MW. Setidaknya saat ini terdapat 125 PKS di Riau dengan rata-rata kapasitas 30 ton. Jika 100 PKS saja, setara dengan 100 MW atau satu pembangkit listrik tenaga uap.
“Jadi kalau mau, Riau ini bisa surplus energi untuk energi terbarukan. Riau punya kesempatan besar untuk itu,” katanya.
Selain dua energi terbarukan itu, Riau masih punya sumber lain. Tapi sumber tersebut masih kecil dibandingkan surya dan biomassa yang lebih strategis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *