PT PLN (Persero) bersama Universitas Sriwijaya (Unsri) sepakat mengembangkan kekuatan sinar matahari sebagai sumber energi listrik untuk menerangi 1.000 desa di Sumsel.

Proyek pengembangan ini sepenuhnya mendapat dukungan dana dari Comunity Service Relation (CSR) PLN melalui program Desa Energi Mandiri. Hal ini terungkap dalam Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani Dirut PT PLN (Persero) Ir Fahmi Mochtar, Rektor Unsri Prof Dr Badia Parizase dan Gubernur Sumsel Ir H Alex Noerdin SH, Senin (31/8) di Istana Gubernur Sumsel Jl Demang Lebar Daun.

Menurut Fahmi, Sumsel merupakan provinsi ketiga yang bekerjasama dengan PT PLN. “Kerjasama PLN dengan NTB dan Kaltim dilakukan PLN Pusat, tetapi khusus untuk Sumsel MoU harus di Palembang. Kenapa, karena saya Wong Plembang, jadi kesempatan pulang kampung,” kata Fahmi yang mendapat aplus dari undangan yang hadir termasuk Alex Noerdin.

Program Desa Mandiri merupakan upaya PLN membantu masyarakat yang secara sistem butuh waktu lama untuk bisa dialiri listrik, tetapi dengan program desa mandiri, maka potensi daerah yang dikembangkan. Secara nasional baru 62 persen desa berlistrikan dan 38 persen belum menikmati listrik.

Untuk di Jawa Barat (Jabar), dikembangkan pembangkit listrik dengan menggunakan sumber energi biodesel, sedangkan di NTB menggunakan lampu yang di-charge yang mampu menyala selama satu minggu. Begitu juga di di Kaltim.

Sedangkan untuk Sumsel, tehnologi yang dikembangkan dengan memanfaatkan tenaga surya (matahari) atau PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya).

PLTS adalah adalah salah satu pembangkit listrik sederhana dan mudah di pasang di rumah menggunakan cahaya matahari, sehingga PLTS merupakan sarana untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan listrik yang sangat ramah lingkungan.

Dalam pelaksanaannya, kalangan Unsri diajak dan melibatkan masyarakat desa. Sementara bagi Unsri sendiri, kerjasama dengan PLN sudah pernah sejak beberapa waktu sebelumnya.

Hanya saja, baru yang realisasi dan MoU langsung dengan Direktur Utama baru 2009. “Selama ini kerjasama dengan pejabat PLN lokal, sekarang dengan dirut langsung dan bagi Unsri, ini adalah kepercayaan besar,” kata Prof Badia Parizade.

Tantang PLN Bagi Alex Noerdin sendiri program Desa Mandiri di Sumsel gemanya masih terlalu kecil. Untuk itu, ia menantang PLN untuk menjadikan Sumsel sebagai provinsi yang mandiri dalam bidang energi kelistrikan sehingga kekurangan energi listrik tidak terjadi di Sumsel dan pemadaman bergilir yang menjadi momok setiap memasuki puasa tidak lagi menghantui warga.

“Pemerintah daerah akan mendukung PLN menjadikan desa-desa di Sumsel mandiri soal energi, tetapi prosedur dan perizinan disederhanakan,” katanya. Kendati bukan di zaman Fahmi Mochtar, Alex mengaku di tahun 2003 lalu saat menjabat Bupati Muba.

Ia mengusulkan pembangunan pembangkit listrik PLTU Mulutambang 1×200 MW di Bayunglencir melalui pihak swasta (independent power producer/IPP), tetapi sampai saat ini izin tidak pernah dikeluarkan. Padahal, di Sumsel pertumbuhan ekonomi sedang melejit sehingga dibutuhkan ketersediaan listrik yang cukup. “Kita ingin membuktikan Sumsel sebagai lumbung energi,” katanya.

Sumber By www.unsri.ac.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *