Foto panel surya pada saat peresmian pembangkit listrik fotovoltaik di Diriamba, Managua, pada 21 Februari 2013. (HECTOR RETAMAL/AFP/GETTY IMAGES)

Sebuah laporan penelitian yang baru-baru ini diterbitkan berjudul “Kombinasi Fotovoltaik Plasmonik-Excitonik Menggunakan Cangkang Nano,” oleh Profesor teknik dari Universitas Toronto, Ted Sargent bersama kelompok penelitiannya mengklaim telah menemukan sebuah teknik untuk meningkatkan efisiensi sel surya. Menurut makalah yang diterbitkan dalam jurnal Nano Letters, teknik tersebut melibatkan penggunaan koloid kuantum dot fotovoltaik dalam sel surya.

Kuantum dot fotovoltaik tidak begitu kompeten dalam menangkap energi dari gelombang inframerah yang dihasilkan matahari. Inframerah berkontribusi setengah dari energi matahari yang mencapai Bumi. Oleh karena itu, serapan ini sangat penting untuk memaksimalkan efisiensi surya.

Untuk mencapai hal ini, kelompok penelitian memperkenalkan spektral yang telah disetting, yaitu solusi plasmonik nano-partikel yang telah diproses. Partikel-partikel ini dikatakan untuk memberikan kontrol yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap propagasi cahaya dan penyerapan.

“Teknik baru yang dikembangkan oleh kelompok Ted Sargent ini menunjukkan kemungkinan peningkatan 35 persen dalam efisiensi teknologi di daerah dekat spektral inframerah,” menurut rekan penulis, Dr. Susanna Thon. “Secara keseluruhan, ini bisa diartikan peningkatan konversi efisiensi daya surya hingga 11 persen, membuat kuantum dot fotovoltaik bahkan lebih menarik sebagai alternatif teknologi sel surya saat ini.”

“Ada dua keuntungan dari titik kuantum koloid,” kata Thon. “Pertama, mereka jauh lebih murah, sehingga mereka mengurangi biaya pembangkit listrik yang diukur dalam biaya per watt daya. Tetapi keuntungan utama adalah bahwa dengan hanya mengubah ukuran kuantum dot, Anda dapat mengubah spektrum cahaya penyerapan. Mengubah ukuran sangat mudah, dan ukuran properti ini dimiliki bersama oleh bahan plasmonik. Dengan mengubah ukuran partikel plasmonik, kami mampu untuk melengkapi spektrum penyerapan dan hamburan dari dua kelas utama materi nano.”

Kelompok ini telah mencapai peningkatan efi siensi melalui kandungan emas pada cangkang nano. Dan karena emas bukanlah logam yang murah dan mudah didapatkan, maka mereka mencari alternatif logam lain yang lebih murah.

Thon menambahkan bahwa lebih banyak pekerjaan masih harus dilakukan. “Kami ingin mencapai optimasi lebih, dan kami juga tertarik untuk mencari logam yang lebih murah untuk membangun sel yang lebih baik. Kami juga ingin target yang lebih baik di mana foton diserap dalam sel, ini adalah fotovoltaik penting karena Anda ingin menyerap foton yang Anda inginkan dengan muatan yang mengumpulkan elektroda sebanyak mungkin.” (The Epoch Times / rob)

Sumber by www.epochtimes.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *